Trouble Shoting di "Pabrik Susu"

Mungkin kata "Kolam Susu" sudah tidak asing lagi untuk banyak orang, khususnya untuk para penggemar lagu-lagu dari Group Band Koes Plus, karena salah satu lagu nya yang menjadi Top Hits adalah lagu Kolam Susu. Nah, kalau "Pabrik Susu" yang aku maksudkan disini tidak ada hubungannya dengan lagu Kolam Susu nya Koes Plus, karena "Pabrik Susu" yang dimaksud ini hanya istilah atau sebutan canda kami yang pernah bekerja di lingkungan STO Gambir untuk salah satu Unit Kerja yang berada di lingkungan STO Gambir.

Sekitar tahun '90-an di STO Gambir sebagai STO yang besar, banyak sekali Unit Kerja yang berada dan bekerja di lingkungan ini yang semuanya masuk dalam struktur organisasi KDJP. Diantaranya adalah Unit Kerja Penerangan Lokal atau lebih dikenal dengan sebutan Penerangan/108 yang berada di bawah Subdin Penerangan Lokal (PenLok) dan Unit Kerja Telepon Antar Daerah atau lebih dikenal dengan sebutan Interlokal/100 yang dibawah Subdin Telepon Antar Daerah (Telanda).

Nah, dari kedua unit kerja inilah istilah "Pabrik Susu" muncul karena ke dua unit kerja ini petugas nya atau operator nya di dominasi oleh kaum wanita. Kalau suasana di ruang kerja ke dua unit kerja tersebut nyaris sama, karena tugas mereka memberikan pelayanan dengan menggunakan suara melalui perangkat khusus sejenis "switch board" sehingga disaat-saat tertentu mereka begitu jenuhnya bekerja dan harus istirahat setelah bekerja selama beberapa jam. Dan suatu hal yang lumrah, dalam kejenuhan bekerja apabila ada orang yang masuk ruangan kerja mereka khususnya kalau ada pria yang masuk akan menjadi perhatian mereka.

Hal ini pernah aku alami ketika pertama kali masuk ke salah satu ruangan kerja mereka, ketika akan memperbaiki sesuatu gangguan teknis. Dari mulai masuk ke ruangan sampai ke lokasi yang akan aku perbaiki dan bekerja untuk perbaikan, nyaris semua mata operator yang sedang bertugas memperhatikan aku. Risih juga dibuatnya, karena bekerja dan diperhatikan oleh banyak pasang mata wanita. Namun menjadi hal yang biasa ketika sudah sering masuk keruangan tersebut dan kenal dengan beberapa operator yang bertugas.

Sekarang sesuai dengan perkembangan teknologi dan perubahan organisasi, kedua Unit Kerja tersebut sudah tidak ada lagi. Pelayanan untuk informasi atau penerangan dilakukan oleh suatu unit kerja baru yang nampaknya karyawannya atau operatornya sudah gabungan antara pria dan wanita, jadi istilah "Pabrik Susu" hanya istilah untuk unit kerja dimasa lalu he he he ........ !
Selengkapnya...

"Membangkang" Perintah Big-Boz !

Saat aku masih bertugas di suatu Bagian yang bertugas untuk Pengoperasian & Pemeliharaan suatu perangkat akses, banyak sekali tugas yang aku harus kerjakan termasuk mengawasi pelaksanaan operasi & pemeliharaan agar sesuai dengan ketentuan dan performansi-nya tetap pada standard yang telah ditentukan termasuk pencapaian target-target performansi khususnya jaringan akses yang hasil akhirnya merupakan nilai performansi Kantor yang pencapaiannya bersaing dengan Kantor lainnya.

Dengan beban yang begitu besar, sudah bukan yang aneh kalau aku harus bekerja nyaris 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu (bener-bener jadi manusia yang workaholic). Untuk menunjang tugas sehari-hari, sudah biasa kalau setiap hari Jumat sore aku mendownload performansi selama minggu itu untuk selanjutnya di evaluasi yang aku kerjakan pada hari Sabtu dan Minggu kemudian mencoba memberikan rekomendasi untuk disampaikan di hari Senin berikutnya untuk rekan-rekan yang bertugas di lapangan baik yang performansi nya tercapai atau tidak tercapai.

Nah, disuatu Malam Minggu ketika aku sedang bekerja dengan data-data yang aku bawa dari kantor, aku menerima SMS dari Big-Boz yang isinya suatu "Perintah" untuk semua jajaran di Kantor-ku agar semuanya "Keluar" dari kantor untuk mendukung Program Pemasaran. Aku yang sedang mengevaluasi performansi unit kerjaku seperti "tersentak" membaca SMS ini, karena selain menjaga performansi unit kerja sendiri, unit kerjaku juga menjadi "Tulang-Punggung" untuk mendukung dan mensukseskan Kinerja Pemasaran.

Aku kemudian menjawab SMS itu dan menyampaikan kepada Big-Boz bahwa saat itu (mendekati tengah malam) aku sedang mengerjakan dan mengevaluasi performansi unit kerjaku, dan menyampaikan juga bahwa suatu hal yang mustahil kalau kami yang di "Garis Belakang" yang menyiapkan "Dukungan" untuk mensukseskan Program Pemasaran di "Garis Depan" diharuskan ikut keluar dan "mengabaikan" performansi lainnya yang juga menjadi target kinerja Kantor. Aku sampaikan juga, bahwa aku beserta teman-teman di unit kerjaku tetap akan mendukung Program Pemasaran tapi tidak akan keluar kantor untuk mendukung Pemasaran secara langsung (menjadi "marketers").

Dampak dari SMS-ku, pada hari Senin berikutnya kami semua dipanggil Big-Boz yang intinya membahas SMS-ku dan akhirnya Big-Boz memutuskan bahwa unit kerjaku tetap melakukan tugas rutin yang tidak kalah "berat"nya dengan target pemasaran dan tidak dilibatkan untuk menjadi tenaga "marketers" yang harus keluar dari kantor.
Selengkapnya...

Keluarga Besar "PON"

Selama bertugas dan bekerja di Palembang tentunya banyak yang aku alami yang bisa dijadikan kenangan bagi aku sendiri atau teman-teman lain yang juga pernah bekerja bersama di Palembang. Cerita tentang Keluarga Besar "PON" ini juga terjadi di Palembang, di saat awal-awal aku bekerja di kota ini, tapi kali ini yang aku ceritakan bukan yang aku alami sendiri tetapi tentang seorang teman yang saat itu bekerja di Kantor Daerah Telepon (KANDAPON) Palembang.

Cerita ini berawal dari "singkatan-singkatan" baku untuk sebutan nama Kantor dan Pejabatnya yang berlaku saat itu (tahun 1970-an). Saat itu nama Kantor Daerah Telepon (KANDAPON) atau sama dengan KANDATEL sekarang, dipimpin oleh seorang Kepala Kantor yang sebutannya adalah KAKANDAPON. Demikian juga tempat aku bekerja di Kantor Daerah Telegrap & Telex (KANDATEX) dipimpin oleh KAKANDATEX.

Ketika suatu saat salah satu temanku yang bekerja di KANDAPON saat itu "memacari" salah satu putri-nya KAKANDAPON, mulailah istilah-istilah baru bermunculan menyesuaikan dengan kondisi saat itu. Karena sebutan KAKANDA (Kepala Kantor Daerah) yang bisa diartikan juga untuk sebutan kepada seorang Kakak Laki-Laki, maka kemudian muncullah istilah-istilah baru yaitu "IBUNDAPON" untuk sang istri KAKANDAPON dan Ibu nya sang Putri KAKANDAPON dan "ANANDAPON" untuk sang putri KAKANDAPON dan temanku sendiri mendapat sebutan baru sebagai "MANTUPON" sebagai calon mantu pak KAKANDAPON he he he .... !

Saat mereka pacaran aman-aman saja, namun suatu saat timbul masalah untuk temanku ketika mendapat berita bahwa dia akan di mutasikan ke Surabaya. Secara Kedinasan tidak ada masalah, karena setiap tahun saat itu selalu ada pegawai baru yang baru lulus dari pendidikan dan siap menggantikan siapa saja yang akan di mutasi. Namun untuk temanku ini, menjadi masalah ketika temannya satu angkatan yang bertugas di Jambi sudah mutasi ke Surabaya. Usut punya usut, ternyata setelah di check SK (Surat Keputusan) mutasi sudah ada dan "tertahan" di meja sang "KAKANDAPON".

Suatu hal yang manusiawi kalau sang "KAKANDAPON" yang juga merangkap sebagai Ayah dari seorang putri yang berpacaran sudah lama dengan seorang bawahannya tentunya berharap sang "ANANDAPON" tidak dikecewakan atau di sia-siakan oleh sang Calon "MANTUPON" dan tentunya juga berharap adanya "keseriusan atau kesungguhan" dari sang "MANTUPON" tentang hubungan yang sudah terjalin dengan putrinya. Namun masalah Pribadi akhirnya menjadi masalah "Kedinasan", dengan tertahannya SK Mutasi untuk sang Calon "MANTUPON".

Akhirnya setelah berkonsultasi dengan kita-kita sebagai teman, temanku itu membicarakan dengan keluarganya dan akhirnya diputuskan untuk melamar Putri Sang KAKANDAPON dan setelah melakukan Pertunangan akhirnya SK Mutasi tersebut diserahkan sehingga temanku bisa melaksanakan mutasi ke Surabaya. Akhir dari cerita ini adalah HAPPY ENDING karena tidak lama setelah mutasi ke Surabaya dan setelah Putri dari KAKANDAPON tersebut juga sudah menyelesaikan sekolahnya, mereka kemudian resmi menikah dan Alhamdulillah temanku itu sekarang sudah punya beberapa orang cucu hanya saja dalam Keluarga Besar "PON" ini tidak sempat muncul istilah "CUCUPON" atau "CICITPON" karena Sang KAKANDAPON akhirnya juga melaksanakan mutasi dari Palembang.
Selengkapnya...

Di-Isengin Teman Sentral

Diawal-awal ketika aku mulai bekerja di Palembang ditahun 1974, untuk komunikasi telepon sudah menggunakan sistim Sentral Telepon Otomat, yang saat itu menggunakan sentral telepon type ARF-xxx (type lengkapnya aku lupa) untuk Sentral Lokal-nya dan type ARM-xxx untuk Sentral SLJJ (Sambungan Langsung Jarak Jauh). Namun untuk sentral SLJJ nya belum difungsikan karena sistem transmisi yang digunakan saat itu Trans Sumatra Microwave (TSMW) belum selesai seluruh pembangunannya, sehingga untuk komunikasi SLJJ dilakukan secara manual dengan menggunakan jasa operator yang lebih dikenal dengan sebutan Interlokal (100).

Nah, cerita tentang "Diisengin Teman Sentral" ini berawal ketika aku yang bekerja di Sentral Telex Kantor Telegrap & Telex (KANDATEX) Palembang, kebagian masuk Dinas Siang sedangkan teman-teman lain yang tinggal serumah yang bekerja di Sentral ARM dan di Dinas Luar (Dinas Jaringan Akses sebutan sekarang) Kantor Daerah Telepon (KANDAPON) Palembang dan Stasiun Radio Microwave (SROM) Palembang masuk Dinas Pagi semua.

Risiko yang masuk Dinas Siang, kebagian untuk bersih-bersih rumah dan menyiapkan nasi untuk makan siang teman-teman yang masuk Dinas Pagi. Setelah selesai beres-beres, biasanya aku menghubungi atau ngobrol dengan teman teman baik cowok maupun cewek melalui telepon yang ada dirumah. Kebetulan dirumah kontrakan, kami diberikan fasilitas Telepon Dinas, karena "kebetulan" kami saat itu merupakan "pejabat-pejabat" kecil yang bertanggung jawab atas kelancaran telekomunikasi di Kota Palembang dan sekitarnya sehingga harus siap dan stand-by 24 jam penuh bila ada masalah atau gangguan teknis.

Suatu saat ketika aku sedang bicara dengan seorang teman cewek, tiba-tiba tersambung dengan pembicaraan lain yang juga cowok dan cewek. Aku kaget karena kejadiannya tiba-tiba sekali, dan sebagai "orang teknis" aku langsung berpikir pasti ada gangguan yang menyebabkan terjadi nya percakapan saling-silang (cross connection) tersebut. Saat itu aku berpikir pasti ada masalah dengan jaringan dan tidak terpikir masalah datangnya dari sentral karena saat itu sentral telepon yang digunakan masih relatif baru pengoperasiannya.

Namun kemudian "rahasia" terjadi nya "percakapan saling-silang (cross connection)" yang aku alami "terbuka" ketika aku beberapa kali dicandain oleh teman-teman yang bekerja di sentral. Dengan kemampuan teknis mereka dan juga fasilitas teknis yang ada pada sentral, rupanya dimanfaatkan oleh teman-teman di sentral untuk ngerjain aku. Dan rupanya teman-teman yang bekerja di Jaringan juga ada yang "dikerjain", maklum saat itu kami semua masih bujangan jadi saling "ngeledek" menjadi hal yang biasa. Selanjutnya, kalau sedang dirumah dan aku memakai telepon harus selalu waspada supaya tidak "dikerjain" teman-teman sentral lagi.
Selengkapnya...

Yang Aneh Tapi Nyata (1)

Selama 34 tahun bekerja, tentunya banyak sekali aku menemui banyak hal baik yang biasa-biasa saja atau yang "aneh-aneh". Kalau yang biasa-biasa saja mungkin banyak orang yang mengalami hal yang sama tapi kalau hal yang aneh-aneh belum tentu semua orang mengalaminya. Kalaupun mengalaminya, mungkin versinya sedikit berbeda.

Hal pertama yang aneh aku temui, ketika aku bekerja untuk pertama kali di KANDATEX (Kantor Daerah Telegrap & Telex) Palembang, disaat aku melaksanakan Dinas Malam pertama. Cerita lengkap nya pernah aku tuliskan di Blog ini (disini). Walaupun sedikit "menegangkan" tetapi kejadian tersebut tidak pernah aku alami lagi, padahal lokasi tempat aku bekerja saat itu di Gedung yang cukup tua (dibangun sejak jaman Belanda), landasan atau lantai sentral-nya saja masih menggunakan Kayu namun masih sangat kuat untuk menahan beban beratnya sentral dan manusianya.

Kemudian ketika aku mutasi ke WITEL-IV Jakarta (waktu itu) dan penugasan pertama di Sentral Telex Jatinegara-2 atau lebih dikenal dengan sebutan STO Prumpung yang sekarang lebih dikenal sebagai kantor/gedung eks KANDATEL Jakarta Timur. Walaupun saat itu, STO JNG-2 (JT-2) masih sepi karena petugas yang bertugas di STO itu hanya petugas Sentral Telex dan rekan-rekan dari Dinas Jaringan saja karena untuk petugas Sentral Telepon (saat itu Sentral Telepon masih menggunakan type PRX dan EWSD) dan petugas Transmisi HAS tidak ada, karena perangkatnya adalah perangkat yang Un-Attended, tapi relatif aman-aman saja dan aku tidak pernah menemukan hal-hal yang aneh-aneh saat bekerja.

Nah, ketika aku di mutasi ke STO Gambir mulailah aku "mendengar" cerita yang "aneh-aneh" tentang kejadian-kejadian yang di luar akal sehat. Dimulai dari cerita petugas Multiplex Analog di lantai 6 Gedung-B STO Gambir yang dinas malam melihat "paha orang" setinggi lantai 6 sampai dengan cerita para petugas Pengamanan kalau ber patroli lewat di samping kanan STO selalu ada yang "melempari" batu, batunya ada tapi yang melemparnya selalu tidak pernah diketahui.

Yang aku paling ingat ketika ada musibah dengan Sentral EMD yang ambruk saat akan dibongkar. Secara akal sehat dan logika, sentral tersebut tidak mungkin ambruk karena selain memang "besar dan berat" juga dudukan atau pegangan sentral di lantai maupun antar rack juga sangat kuat. Hampir setiap hari aku masuk ke ruangan sentral tersebut yang sudah tidak aktif lagi (sudah off) karena ada satu unit kerja di bawah tanggung jawab ku berada disalah satu sudut ruangan sentral tua tersebut jadi aku bisa "memprediksi" kekuatan sentral tersebut.

Tapi yang namanya musibah, sentral yang besar dan berat itu bisa ambruk di saat petugas yang membongkar sedang istirahat. Memang beberapa rack sudah di lepaskan baut-baut pengikat di lantai (aku tidak tahu persis rencana teknis pembongkaran sentral tersebut) tapi dibagian atas, antar rack masih terikat kuat. Menurut cerita yang ada di lokasi, ada yang melihat muncul makhluk hitam yang lebih tinggi dari manusia tiba-tiba datang dan mendorong rack yang paling pinggir dan dengan "effek domino" maka semua rack yang ada disampingnya ambruk karena "beban berat" dari setiap rack yang ambruk dan makhluk terssebut langsung "menghilang" ketika semua rack sudah ambruk.

Keanehan selanjutnya, ketika beberapa Pejabat dari Kantor WITEL meninjau lokasi dan akan melihat konstruksi lantai dari bawah sentral yang ambruk karena dikuatirkan lantai akan retak dengan jatuhnya sentral yang sangat berat dari ruang MDF yang letaknya tepat di bawah sentral tersebut, tiba-tiba terdengar ada suara ketukan dari lantai atas seolah-olah ada yang masih bekerja di lokasi sentral yang ambruk. Langsung ada rekan yang mengechek ke ruangan sentral tapi tidak diketemukan ada orang sama sekali apalagi ada yang masih bekerja. Aneh tapi nyata, dan lantai sentral juga tidak mengalami retak sama sekali walaupun mengalami "hantaman" yang sangat kuat dengan ambruknya sentral EMD tersebut.
Selengkapnya...

"Salah-Arah" di Laut

Peristiwa atau kejadian yang aku alami dan tidak pernah aku lupakan adalah ketika aku harus "terjun" dari perahu masuk ke laut yang pertama kalinya seumur hidup. Hal ini aku alami ketika aku mengikuti Outbound yang wajib diikuti sebelum mengikuti SUSPIM-II di Bandung pada tahun 2001. Jujur saja, selama hidup aku belum pernah main-main di laut, jangankan di laut bermain di pantai saja jarang sekali aku lakukan. Lagi pula aku tidak bisa berenang. Nah ketika mengikuti outbound tersebut, mau tidak mau semua aktivitas yang sudah dipersiapkan oleh penyelenggara harus diikuti karena hasilnya akan melengkapi hasil SUSPIM-II yang akan berjalan.

Aku masih ingat, aktivitas pertama yang dilakukan setelah sampai di Pulau Bidadari (aktivitas outbound dilakukan disekitar pulau Bidadari) langsung pengenalan tentang laut setelah ada permainan pengenalan untuk membentuk team building. Sebelum naik ke perahu kami sudah diberikan pelampung (life-jacket) dan petunjuk serta tata cara untuk melihat arah kemana kita akan berenang menuju arah pantai pada saat terjun kelaut . Ketika semua sudah naik perahu dan mengarah ketengah laut, disinilah "ketakutan-ku" mulai timbul. Seperti yang aku tuliskan diatas, aku belum pernah "masuk" kelaut dan juga tidak bisa berenang, walaupun sudah pakai pelampung pun tetap saja rasa takut itu menguasai diriku. Sekitar 20 atau 30 meter dari bibir pantai, mesin perahu dimatikan dan semua peserta diminta untuk terjun kelaut dan berenang sendiri menuju ke pantai.

Semua teman-temanku sudah masuk kelaut dan berenang menuju ke pantai, tinggal aku sendirian yang belum terjun masuk kelaut. Instruktur sudah menegaskan, aku harus masuk kelaut sampai kapanpun bahkan ada penawaran mau di dorong kelaut atau mau terjun sendiri? Pelan tapi pasti perahu juga semakin menjauh dari bibir pantai terdorong oleh ombak sehingga jarak tempuh ke pantai semakin menjauh. Akhirnya, dengan sisa-sisa "keberanian" yang ada aku meloncat dan masuk kedalam laut untuk pertama kalinya dalam seumur hidupku. Begitu masuk kedalam air laut, dengan dorongan pelampung aku muncul lagi di permukaan laut walaupun sempat menelan air laut yang cukup banyak. Ternyata eh ternyata, setelah mengapung dan mulai berenang ternyata malah menyenangkan berenang pakai pelampung.

Tanpa aku sadari aku melakukan kesalahan fatal dengan "melupakan" instruksi para instruktur untuk melihat arah kemana tujuan kita berenang. Keasyikan berenang yang aku pikir aku menuju ke pantai, eh ternyata aku malah menuju arah sebaliknya. Aku baru menyadari ketika perahu yang dinaiki instruktur menghampiri aku dan bertanya, "Bapak mau kemana ? mau ke Jakarta kah?" Disitu aku baru menyadari kalau aku salah arah, dan ketika aku mencoba berdiri dilaut untuk melihat arah, sempat di bolak-balik karena diterjang ombak walaupun aku akhirnya mampu merubah arah berenang-ku. Tetapi waktu untuk berlatih sudah hampir habis, aku juga sudah lelah sekali dan ombak juga sudah semakin membesar akhirnya aku "diseret" instruktur sampai ke pantai.

Sampai dipantai aku harus dibantu teman-teman untuk berjalan karena tenaga-ku benar-benar "sudah habis" saat aku "salah-arah" di laut. Ini pengalaman yang tidak pernah aku lupakan, namun ketika aku mendapat kesempatan lagi mengikuti outboud lainnya yang diadakan di laut aku sudah tidak takut lagi dengan laut.
Selengkapnya...

Hormat Pada Dasi

Ketika aku masih jadi staf / pelaksana, terkadang bila aku melihat Kepala Kantor ku yang selalu pakai dasi aku hanya berpikir, kapan aku berkesempatan bekerja dengan memakai dasi ? Apalagi dengan Korps ku yang dari Korps Teknik, nampaknya sesuatu hal yang mustahil kalau aku bekerja dengan memakai dasi.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, dimana dimulai dari karier ku sebagai staf / pelaksana, yang selangkah demi selangkah akhirnya aku mencapai tingkatan Kepala Sub Dinas (Kasubdin) atau sekarang sama dengan Asisten Manager (Asman). Pertama sekali posisi Kasubdin aku jalani saat aku menjadi Kasubdin Transmisi pada Dinas Ophar Sentradaya Kandatel JP.

Nah, sebagai Kasubdin Transmisi inilah aku mulai bekerja harus menggunakan dasi sebagai salah satu kelengkapan harian yang harus dipakai selama jam dinas. Memang diawal terasa agak aneh kalau bekerja sambil memakai dasi, apalagi aku sebagai orang teknik rasanya janggal bekerja dengan memakai dasi. Namun karena sudah keharusan dan merupakan salah satu bentuk disiplin dasar, mau tidak mau setiap hari harus pakai dasi kecuali hari-hari tertentu menggunakan seragam lapangan yang waktu itu masih menggunakan seragam warna coklat muda.

Ketika bertugas di Kandatel JP tidak menjadi masalah dengan aku mengenakan dasi, demikian juga ketika aku di mutasikan menjadi Kasubdin Dukungan Pelanggan di Dinas Pelayanan Network. Nah, cerita tentang "Hormat pada Dasi" aku alami ketika aku di promosikan menjadi Kepala Dinas Jaringan Akses Pelanggan atau Manager Jaringan Akses di Kandatel JS.

Sebagai pejabat baru yang belum mempunyai pakaian dinas lapangan maka aku setiap hari harus mengenakan dasi sebagai pelengkap pakaian dinas harian. Nah, kalau sudah memakai dasi, sejak aku datang ke kantor dan berjalan kemana saja baik di lapangan maupun di lingkungan kantor, hampir semua orang memberi salam khususnya para petugas pengamanan (SatPam). Awalnya aku berpikir, sudah "hukum alam" kalau orang menghormati orang yang pakai dasi di lingkungan kantor.

Namun suatu ketika aku sengaja, sewaktu masuk kantor dasi aku lepaskan sehingga aku menjadi "pegawai biasa" yang akan bekerja. Keanehan mulai terjadi, sejak masuk halaman kantor dan masuk ke dalam kantor tidak ada satupun yang memberi salam kepadaku, apalagi aku sebagai "orang baru" di Kandatel JS belum semuanya mengenali aku. Tetapi ketika aku keluar lagi dari kantor dengan mengenakan dasi sesuai ketentuan, semua orang memberi salam lagi. Aku jadi tertawa melihat hal ini karena aku merasakan kalau orang "memberi salam" rupanya untuk "Dasiku" bukan untuk diriku. Namun kemudian setelah beberapa bulan bekerja aku mulai dikenali banyak orang dan kalau aku bertemu dengan teman sekerja atau petugas pengamanan saling memberi salam walaupun aku tidak mengenakan dasi sekalipun.
Selengkapnya...

Oktoberfest

Beberapa saat yang lalu aku melihat kemeriahan acara pembukaan Oktoberfest 2010 pada tanggal 18 September yang lalu di Muenchen melalui TV. Aku menjadi teringat, 22 tahun lalu di tahun 1988, sempat melihat kemeriahan acara Oktoberfest 1988 tersebut. Saat itu aku bersama 7 orang rekan lainnya ditugaskan perusahaan untuk mengikuti training tentang Database Sentral Telex type EDX-C yang akan dipasang di Indonesia, yang di adakan di Siemens Training Center, Muenchen, Jerman Barat (saat itu Jerman masih terbagi dua, Jerman Barat dan Jerman Timur)

Acara Oktoberfest itu sendiri merupakan acara atau festival tahunan yang bersifat internasional dan diadakan di kota Muenchen, yang dimulai setiap akhir September sampai awal Oktober (dua mingguan). Oktoberfest ini di pusatkan di Theresienwiese atau lebih dikenal dengan sebutan "d'Wiesn". Di acara Oktoberfest ini, acara utamanya adalah Pesta minum Bir dan jangan heran bila minum bir disini gelas yang digunakan besar-besar yang ukurannya diatas 1 liter.

Sebagai trainer di Siemens Training Center, dan kebetulan menjelang selesainya acara trainiing,kami di undang resmi oleh Siemens untuk menghadiri acara Pesta Bir tersebut. Peserta yang ikut serta selain dari Indonesia, ada satu orang dari New Zealand dan satu orang dari Peru. Dengan didampingi oleh instruktur dari Siemens,kami masuk kedalam tenda besar yang disebut Bierzielt yang mampu menampung ribuan orang dan kami mencoba untuk minum Bir yang saat itu khususnya peserta dari Indonesia yang bukan peminum bir merupakan masalah besar ketika kami harus minum bir dalam gelas ukuran 1,5 liter. Tapi dengan berbagai macam cara tanpa harus menyinggung yang mengundang kami, Bir dalam gelas berkurang isinya tanpa kami harus meminumnya. Tapi ada satu orang rekan yang nekad mencoba minum sampai habis yang akhirnya berdampak ketika pulang ke apartemen dia ketiduran di dalam U-Bahn (kereta api bawah tanah) sampai terbawa ke pemberhentian terakhir karena nyenyak sekali tidurnya.

Selain acara minum bir ini, aku juga sempat melihat karnaval yang dadakan dengan berjalan mengelilingi kota Muenchen. Menarik sekali karnaval ini karena bisa melihat pakaian yang dikenakan khas Bavaria baik yang dikenakan oleh pria atau wanitanya. Banyak atraksi yang ditampilkan dari musik sampai perlatan kuno dibawa mereka dan ditampilkan dalam karnaval tersebut. Mungkin acara Oktoberfest 2010 yang diadakan sekarang jauh lebih meriah daripada Oktoberfest tahun 1988 yang lalu karena perkembangan budaya dan lain sebaginya pasti mempengaruhi aktivitas tersebut. Sekarang hanya bisa bermimpi saja, kapan bisa melihat Oktoberfest lagi di Muenchen. Yang jelas, aku membawa kenangan berupa Gelas besar cinderamata dari Siemens sebagai kenang-kenangan Oktoberfest 1988.
Selengkapnya...

Call Bodong

Ketika aku bertugas di Bagian Business Performance, hobby-ku yang suka mengutak-atik data semenjak masih di Dinas Jaringan menjadi tersalurkan sekali. Untuk mengetahui Performansi secara menyeluruh aku di bantu dan di support oleh seorang Asman yang pengalamannya sangat bisa diandalkan. Namun terkadang, suatu permasalahan bisa atau bahkan harus dilihat dari sudut pandang yang lain atau yang "tidak biasa" dilakukan.

Nah, terkait dengan judul diatas, aku awali saat itu dari hasil Rapat pembahasan performansi, aku tergelitik untuk mengetahui lebih mendalam mengapa satu target tertentu dari satu unit kerja tertentu (tidak perlu aku sebutkan nama unit kerjanya) tidak tercapai padahal hasil ini juga diperlukan oleh unit kerja lain dan hasil akhirnya adalah peningkatan pendapatan (revenue). Padahal disisi lain dilaporkan, upaya untuk mencapai target tersebut sudah dilakukan secara maksimal antara lain melalui pengiriman surat dan juga dilakukan melalui telepon yang dilaksanakan oleh satu unit kecil yang biasa menghubungi pelanggan.

Berangkat dari informasi tersebut aku mencoba melihat proses yang dilakukan berdasarkan data dari Sistim Informasi Data Elektronik yang kita gunakan. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa produktivitas call yang dilakukan petugas sangat tinggi angka keberhasilannya. Tetapi mengapa hasil akhir nya tetap tidak sesuai dengan target yang akan dicapai. Selanjutnya aku mulai melihat lebih mendalam dengan melihat data call yang dilakukan secara individu oleh petugas ybs.

Disinilah aku melihat banyak kejanggalan yang terjadi, banyak call yang dinyatakan berhasil dalam dua digit detik, bahkan ada yang satu digit detik. Berangkat dari data ini aku mencoba melakukan simulasi call sendiri mulai dari melakukan dial, lalu menunggu dengan mendengarkan nada panggil, telepon diangkat penerima, bicara dan menutup telepon kembali, aku menghitung total waktu yang aku gunakan melakukan aktivitas ini mencapai tiga digit detik. Selanjutnya aku mencoba berkoordinasi dengan Penanggung Jawab Petugas call dan mendapat informasi bahwa dalam menyampaikan pesan yang harus disampaikan diperlukan waktu x menit atau kalau ditranslasikan ke detik akan menjadi tiga digit detik.

Akhirnya ketahuan juga bahwa banyak call yag dilakukan petugas call adalah "Call Bodong" alias call semu yang belum tentu berhasil tapi dinyatakan berhasil. Atas dasar hasil penelitian ini selanjutnya dilakukan pengawasan yang lebih baik terhadap petugas call oleh unit kerja terkait dan monitoring hasil call juga diperhatikan secara detail dan hasil akhirnya apa yang diharapkan bisa dicapai.
Selengkapnya...

Mempersiapkan LC Data

Pada masa sekitar tahun 1970-an ketika Telex masih menjadi andalan dalam pengiriman dan penerimaan berita baik untuk perorangan maupun perusahaan, termasuk dalam pengiriman dan penerimaan Telegram, berdampak pada Traffic Telex yang cukup tinggi yang antara lain disebabkan karena pendudukan Selector (saat Sentral Telex masih menggunakan Sentral TW-39 yang masih menggunakan Teknology Step-By-Step) dan Trunk yang tersedia.

Hal ini berdampak pada saat akan melakukan panggilan, setelah menekan tombol Start sebelum memulai memutar nomor yang dipilih ataupun sesudah selesai memutar nomor yang dituju akan mendapat jawaban NC yang berarti No Circuit. Untuk pengguna jasa Telex yang traffic nya tinggi, kondisi ini menyebabkan "kerugian" yang cukup besar karena tidak bisa menyampaikan Informasi atau Data yang diperlukan sesuai dengan waktu yang diharapkan.

Saat aku masih bertugas di Kandatex Palembang di sekitar tahun 1974 - 1975, ada dua perusahaan besar saat itu yang traffic telex nya tinggi sekali, yaitu PT PUSRI yang menggunakan Telex untuk komunikasi antara Pabrik yang ada di Palembang dengan Kantor Pusatnya yang berada di Jakarta dan satu lagi adalah PT Pertamina yang menghubungkan daerah produksinya di Plaju dan Sungai Gerong ke Kantor Pusat Pertamina di Jakarta.

Untuk mengatasi traffic-jam yang terjadi dengan keterbatasan sarana saat itu, operator telex Pusri biasanya sudah melakukan call mulai jam 7 pagi dan di "hold" sampai dengan jam 12 (saat jam istirahat) lalu sejak jam 13 melakukan call lagi dan di hold sampai jam 17 atau sampai habisnya berita yang akan dikirim atau diterima. Hal ini tentunya untuk pelanggan menjadi kendala dengan adanya "Beban Tagihan" pemakaian Telex yang besar akibat pendudukan sirkit telex yang ada dalam waktu yang lama (Holding Time nya tinggi). Dampak dari hal ini, untuk solusinya akhirnya dilipih penggunaan Leased Channel Telex (LC Telex) antara Pabrik Pusri di Palembang dengan Kantor Pusat nya di Jakarta.

Penyiapan LC Data untuk Telex saat itu tidak lah semudah seperti sekarang, khususnya dalam hal penyediaan jaringan phisik antara pelanggan sampai ke Kantor Telegrap yang ada. Untuk Jaringan Telex & LC Data memiliki kriteria khusus antara lain Redaman Saluran, Tahanan Isolasi, Tahanan kawat a dan b termasuk Distorsi saluran harus semua sesuai standard yang ditentukan apalagi saat itu Kabel kertas masih digunakan sehingga paling tidak cukup "mempersulit" dalam mencari jaringan yang baik dan sesuai untuk digunakan LC Data.

Saat itu biasanya, kita mengadakan pengukuran sendiri jaringan phisik yang di alokasikan untuk LC Data. Dengan bersenjatakan alat ukur "Megger" (merk alat ukur yang salah kaprah jadi nama alat ukur) kita mengadakan pengukuran dari MDF mini Kantor Telex menuju MDF Kantor Telepon lalu menuju ke arah Pelanggan. Hal ini yang membuat "lama" nya waktu untuk penyiapan dan penyediaan saluran untuk LC Data karena terkadang saluran yang sudah di alokasikan harus diganti berulang kali karena tidak memenuhi persyaratan teknis yang diminta. Bahkan bukan tidak mungkin, penyiapan jaringan menjadi terkendala ketika tidak ada jaringan yang sesuai dengan spesifikasi teknis yang diminta sehingga "terpaksa" harus menunggu perbaikan saluran dari rekan-rekan jaringan telepon saat itu. Ada satu keuntungan psikologis saat itu, karena Jaringan Telex atau Data merupakan Prioritas Utama baik dalam penyediaan maupun perbaikan maka penyiapan jaringan untuk LC Data biasanya mendapatkan dukungan dan bantuan Penuh dari rekan-rekan di Dinas Luar Kandapon (sebutan untuk Dinas Jaringan saat itu).

Bila jaringan end-to-end sudah selesai disiapkan bukan berarti pekerjaan selesai, tugas selanjutnya memberitahu Seksi Data di Subdin Telegrap DINTEKTRAGRAP Jakarta (bayangkan, saat itu untuk menangani Data di seluruh Indonesia hanya ditangani oleh unit kerja setingkat Seksi) untuk mengadakan pengukuran selanjutnya dengan menggunakan alat ukur yang lebih lengkap. Apabila hasil ukurnya sudah memenuhi standard dan setelah rekan-rekan dari Seksi Data memberikan persetujuan kualitas jaringan, barulah LC Data tersebut bisa digunakan dan siap untuk dioperasikan.

Mungkin kalau dipandang dengan sudut pandang saat ini, proses yang dijalankan diatas sangat merepotkan dan rumit, tapi memang begitulah prosedur kerja yag harus dilakukan saat itu khususnya dalam hal penyediaan dan penyiapan jaringan untuk LC Data yang pernah aku alami saat masih bertugas di Kandatex Palembang.
Selengkapnya...

Telegram Indah

Disaat suasana Lebaran seperti saat ini, sebagai mantan insan telekomunikasi dimasa lalu, tentunya akan teringat dengan adanya "Telegram Indah" yang digunakan oleh Masyarakat untuk menyampaikan ucapan selamat lebaran kepada sanak-saudara atau rekan-rekan sejawatnya, khususnya bagi mereka yang tidak bisa melaksanakan mudik pulang ke kampung halamannya masing-masing.

Selain dalam rangka menyambut Lebaran, biasanya Telegram Indah juga disediakan pada saat menyambut datangnya Natal & Tahun Baru. Ada juga Telegram Indah yang disediakan untuk memberikan Ucapan Selamat baik untuk Ulang Tahun, Pernikahan dan lainnya. Pada masa nya, Telegram Indah ini sangat diminati masyarakat karena tarifnya murah dan penyampaiannya juga relatif cepat.

Sebagai petugas Teknik, apabila tiba saatnya untuk menyiapkan fasilitas Telegram Indah aku mempersiapkan nomor-nomor yang akan digunakan untuk penambahan fasilitas eksisting yang sudah ada (karena aku kebetulan petugas Sentral Telex). Biasanya menambah nomor untuk Gentex Khusus Kirim maupun untuk Khusus Terima atau mempersiapkan nomor baru untuk membedakan dengan penerimaan telegram biasa. Untuk yang khusus terima biasanya diberikan fasilitas hunting sesuai dengan traffic penerimaan yang pernah terjadi. Sedangkan untuk terminalnya, rekan lain mempersiapkan teleprinter cadangan untuk digunakan untuk pelaksanaan pengiriman dan penerimaan Telegram Indah tersebut.

Kini, Telegram Indah hanya tinggal kenangan termasuk Telegram Reguler, karena dengan perkembangan teknologi menjadikan Telegram tersisih karena "dikalahkan" dengan SMS atau Email atau media elektronik lainnya yang jauh lebih cepat baik dalam pengiriman maupun penerimaan beritanya.
Selengkapnya...

POSKO LEBARAN

Setiap Hari Raya Iedul Fitri atau Lebaran datang setiap tahun, aku jadi teringat di saat-saat ketika aku masih sebagai pelaksana dan selalu terlibat sebagai bagian dari petugas POSKO Lebaran. Apalagi ketika teknologi yang digunakan masih teknologi analog, dimana perangkat telekomunikasi harus ditunggu dan dijaga performansi nya setiap saat agar para pemakai jasa telekomunikasi tidak dirugikan dan tetap merasa nyaman menggunakan fasilitas yang diperlukan.

Sebagai Petugas dengan Korps Teknik, mau tidak mau harus selalu siap menghadapi kondisi dimana setiap saat diperlukan, tidak peduli siang, malam atau hari libur sekalipun. Saat itu memang belum dikenal istilah Posko Lebaran, hanya saja yang tidak libur atau cuti lebaran mau tidak mau akan kena jadwal shift kapan saja bisa dinas pagi, siang atau malam karena perangkat harus dalam kondisi siap digunakan. Memang yang paling enak disaat Sentral masih menggunakan Sentral Telex TW-39 yang masih menggunakan system step-by-step, dimana kalau hari libur hanya di jaga setengah hari dan selebihnya sentral bisa dimatikan dan ketika besok pagi nya masuk bekerja dihidupkan kembali.

Aku mencoba mengingat kembali (flash back) ketika aku masih sebagai pelaksana dan kena dinas dan bertugas di saat hari lebaran di tahun 70-an. Suasana di Kantor ya biasa-biasa saja, setelah selesai shalat Ied kita ber salam-salaman dengan sesama rekan yang bertugas saat itu. Umumnya yang banyak bertugas hanya rekan-rekan Operator Telegrap dan Petugas Pengantar Telegram atau selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan Caraka Telegrap. Sebagai petugas teknik, aku bertugas hanya sendirian saja mengingat saat itu petugas teknik masih sedikit sekali dan dampaknya mau tidak mau kita harus mampu menguasai tentang pengoperasian dan pemeliharaan Sentral, Transmisi, Terminal Telegrap sampai dengan Catu Daya Telegrap. Sehingga apabila ada masalah, kita harus siap dan mampu menangani masalah secara mandiri, karena saat itu belum ada Handphone bahkan Telepon Rumah pun belum setiap karyawan memiliki telepon dirumahnya sehingga tidak bisa meminta bantuan kalau ada masalah emergency. Kalaupun ada masalah yang kritis biasanya kita lapor ke Kepala Dinas atau ke Kepala Kantor yang pasti ada telepon dinas dirumahnya dan sudah hal yang lumrah kalau pada saat kritis Kepala Kantor turun tangan membantu petugas yang dinas karena pada umumnya Kepala Kantor saat itu juga sama-sama dari Korps Teknik.

Kemudian ketika teknologi berubah, Posko Lebaran juga berubah mengikuti perkembangan. Kalau tadinya Posko petugasnya harus hadir di tempat tugas (Attended) secara perlahan kemudian petugas tidak perlu ada di tempat tugas (Not Attended). Apalagi ketika muncul adanya Handie Talkie (HT), kemudian ada Pager dan kemudian ada Handphone, Posko Lebaran nyaris tidak ditunggu ditempat tugas. Hanya beberapa orang saja yang ditugaskan Piket untuk mengkoordinir bila terjadi masalah dan selanjutnya di distribusikan ke Unit kerja terkait untuk menyelesaikannya.

Selengkapnya...