Kuncen STO Gambir

Pertama sekali aku bertugas di WITEL-IV Jakarta pada medio tahun 1985, aku ditugaskan oleh KADINTEKTRAGRAP (Kepala Dinas Teknik Transmisi & Telegrap) untuk bekerja di SUBDIN Telex yang saat itu lokasi kantornya ada di STO Gambir Jl. Merdeka Selatan Jakarta Pusat. Penugasan pertama sebagai staf KASI Sentral Telex Tandem, walaupun keahlianku ada di Sentral Telex Lokal. Saat itu Sentral Telex Tandem menggunakan type Sentral TWK-D2A dan untuk Sentral Telex Lokal nya menggunakan type Sentral TWK-9. Walaupun aku hanya bertugas selama sekitar 8 bulan di Seksi Sentral Telex Tandem, tapi disitulah aku mulai bekerja di STO Gambir.

Penugasan selanjutnya awal 1986, aku ditugaskan sebagai Kasubsi (Kepala Sub Seksi) Sentral Telex Lokal Jatinegara yang ber lokasi di STO Jatinegara-II atau lebih dikenal saat itu sebagai STO Prumpung yang sekarang menjadi Gedung Kandatel Jakarta Timur atau Divisi Access. Saat itu STO Jatinegara-II masih sepi karena hanya ada satu Gedung yang digunakan untuk Sentral Telepon, Sentral Telex & Perangkat Transmisi untuk HAS (Hubungan Antar Sentral) yang un-attended dan petugas Jaringan Akses. Aku bertugas di Sentral Telex Lokal Jatinegara sampai akhir tahun 1989.

Penugasan selanjutnya, aku mendapat Promosi Jabatan sebagai Kasi (Kepala Seksi) Multiplex Analog yang lokasinya ada di lantai 6 Gedung-B STO Gambir sehingga aku kembali bekerja di STO Gambir. Penugasan ini adalah penugasan yang terpendek, karena hanya sekitar 3 bulan aku sudah di mutasikan kembali ke Sentral Telex dan ditugaskan sebagai Kasi SPC-II yang berkantor di STO Gambir dan membawahi Sentral Telex Lokal Gambir, Sentral Telex Lokal Kota-II dan Sentral Telex Lokal Jatinegara. Saat itu Sentral Telex sudah menggunakan type Sentral Telex EDX-C.

Seiring dengan perubahan Struktur Organisasi di WITEL-IV saat itu pada tahun 1990 an, dimana Dinas-Dinas Teknik Pendukung seperti DINTEKTRAGRAP (Dinas Teknik Transmisi & Telegrap), DINTEKSENPON (Dinas Teknik Sentral Telepon), DINTEKJARHUB (Dinas Teknik Jaringan & Hubungan Antar Sentral) & DINTEKDAYA (Dinas Teknik Catu Daya) dilebur dan di integrasikan ke Dinas Teknik yang ada di KANDATEL saat itu. Aku ditugaskan masuk ke KANDATEL Jakarta Pusat dan penugasan pertama sebagai Kasi Sentral Telex di SENTEL (Sentral Telekomunikasi) Gambir yang selanjutnya seiring dengan re-organisasi baru masuk ke Dinas Teknik yang kemudian namanya berubah menjadi Dinas OPHAR-SENTRADAYA (Operasi & Pemeliharaan Sentral, Transmisi & Catudaya) KANDATEL Jakarta Pusat. Di Struktur Organisasi baru ini aku mendapat kepercayaan dan di promosikan sebagai Kasubdin (Kepala Sub Dinas) Transmisi yang selanjutnya sebutan ini berubah menjadi Asman (Asisten Manager) Transmisi sesuai dengan sebutan nama Organisasi baru dan berakhir menjadi Asman Transmisi karena re-organisasi baru pada akhir tahun 1997 dimana Dinas OPHAR SENTRADAYA di seluruh KANDATEL dilebur dan menjadi Unit Pengelola Network Regional (UPNR) dan aku ikut di mutasikan menjadi Kasubdin Dukungan Pelanggan pada Dinas Pelayanan Network Regional (DINYANNET) yang berlokasi kerja di Jl. Gatot Subroto.

Dari sekian banyak penugasan yang aku ceritakan diatas, aku memang banyak bekerja di lokasi STO Gambir dan karena banyak bertemu orang yang pernah bekerja di STO Gambir dan sudah di mutasikan kemana-mana atau rekan kerja lain yang sering bertemu dan mengetahui aku masih juga bekerja di STO Gambir maka muncul sebutan "Kuncen Gambir" sebagai sebutan ku diantara teman2 karena begitu lamanya aku bertugas dan bekerja di STO Gambir walaupun dengan berbagai macam penugasan yang telah aku laksanakan.
Selengkapnya...

Jadi "PR Swasta"

Ketika aku sedang menjalani Masa Persiapan Pensiun (MPP) aku mulai belajar untuk membuat Blog, maklum dengan waktu luang yang banyak dan keinginan untuk belajar untuk hal-hal yang baru masih sangat besar bahkan sampai dengan saat ini. Beberapa Blog sudah aku buat dan beberapa teman yang masih aktif bekerja mengetahui hal ini.

Dengan pengalamanku ini, ada seorang rekan meminta ku untuk membuat sebuah Blog yang bisa digunakan untuk menjembatani antara perusahaan dengan pelanggannya dan bisa juga menjadi media edukasi untuk produk-produk dari perusahaan. Berhubung rekanku saat itu mau melaksanakan Ibadah Haji maka berbekal dengan kemampuan dan pengetahuan yang ada aku membuat Blog dengan nama : ConVAS South Jakarta.

Untuk kesempurnaan konten dari Blog ini aku banyak berkonsultasi dan berdiskusi dengan seseorang rekan kerja yang juga mantan GM ku ketika masih aktif dulu dan juga seorang Rektor dari salah satu Perguruan Tinggi Swasta di kota SMG yang kebetulan juga sebagai kakak misanku. Dan hasilnya, pelan tapi pasti, ternyata Blog ini menjadi terkenal dan dikenal oleh banyak orang termasuk para Blogger dari almamaterku. Banyak Blogger dari almamaterku terkecoh karena dikira sebagai yang membuat Blog, aku masih aktif sebagai karyawan ternyata setelah tahu kalau aku sudah pensiun mereka terkejut sendiri.

Aku menjadi sangat bangga ketika banyak Blogger-Blogger dari almamaterku di seluruh Indonesia minta untuk bisa di link ke ConVAS South Jakarta termasuk banyaknya teman Blogger lain baik dari Dalam Negeri dan Luar Negeri yang bertukar link sehingga pelan tapi pasti juga menambah banyak teman yang dikenal walau hanya melalui dunia maya. Bahkan ada beberapa Blogger di Luar Negeri yang bekerja sebagai TKI menjadikan ConVAS South Jakarta sebagai sumber informasi yang bisa dipercaya.

Namun dibalik Kebanggaan itu, berbalik menjadi suatu "IRONI" ketika aku mulai kesulitan untuk mendapatkan informasi yang terbaru, sehingga aku tidak bisa melanjutkan menulis. Maklum sebagai seorang Pensiunan aku harus mencari sendiri artikel-artikel yang up to date dan bisa dimuat di ConVAS South Jakarta. Padahal tanpa "mereka-mereka" sadari bahwa aku membawa Bendera KDJS dalam mengelola ConVAS South Jakarta ini, sehingga nama KDJS menjadi semakin banyak dikenal oleh masyarakat minimal para Blogger. Sehingga ketika aku menyerahkan pengelolaan Blog ini kepada rekan-rekan KDJS yang masih aktif untuk dilanjutkan akhirnya malah jadi terbengkalai dan stagnan sampai dengan saat ini.


Selengkapnya...

"Dikerjain" Operator Morse

Ketika aku mulai bekerja pada tahun 1974, pengiriman dan penerimaan berita dengan menggunakan Morse masih digunakan khususnya untuk berkomunikasi antara Palembang ke/dari Pangkal Pinang (Bangka), Tanjung Pandan (Belitung) & Kuala Tungkal (Jambi). Media transmisi yang digunakan saat itu menggunakan HF (High Frequency) sehingga bila ada masalah transmisi harus berkoordinasi dengan Stasiun Radio Pengirim atau Penerima yang lokasinya juga berlainan.

Nah, sebagai karyawan baru saat itu aku pernah "dikerjain" oleh seorang operator morse yang memang "jago" dalam mengirim atau menerima berita menggunakan morse. Saat itu aku bertugas "Dinas Siang" dan si operator rupanya tahu itu dan dia menghubungi aku via Telepon melaporkan bahwa alat "ketokan" morse yang dia gunakan tidak bisa digunakan untuk mengirim morse.

Sebagai petugas teknik dan sesuai dengan prosedur kerja, aku mulai menyusuri sirkit yang digunakan untuk mengirim morse. Aku menggunakan AVO meter untuk memeriksa semua titik-titik ukur sampai dengan terminal yang menuju kearah Stasiun Radio Pemancar. Selidik punya selidik, akhirnya diketahui bahwa Relay mekanik yang digunakan untuk memutus arus tidak bekerja dengan baik. Setelah aku selidiki lebih jauh ternyata "kontak relay" tersebut lengket karena " di lem" sehingga tidak bisa berfungsi seperti seharusnya. Setelah aku bersihkan secara hati-hati relay tersebut, akhirnya perangkat bisa normal kembali. Anehnya, pada saat aku menelusuri gangguan tersebut, si operator yang melaporkan adanya gangguan "menghilang" alias tidak ada ditempat.

Keesokan harinya aku laporkan kejadian ini kepada Kepala Seksi-ku, dan langsung beliau memanggil si operator dan menegur agar tidak mengulang kejadian tersebut. Ternyata dampak dari keisengan si operator terhadap-ku, pengiriman & penerimaan berita menjadi terlambat karena rupanya setelah perangkat normal si operator tidak melanjutkan tugasnya untuk mengirimkan dan menerima berita. Dengan sedikit "ancaman" akan melaporkan kepada yang berwajib dari Kepala Seksi ku bila terjadi lagi hal yang sama kepada "sang operator" karena yang dia lakukan "sadar atau tidak sadar" sudah merupakan tindakan "sabotase" selanjutnya si operator tidak berani lagi melakukan hal tersebut. Selanjutnya pengiriman & penerimaan berita menggunakan morse masih dipergunakan sampai dengan tahun 1976 dan setelah Satelit Palapa diluncurkan, komunikasi menggunakan morse dihentikan dan digantikan dengan Telex yang menggunakan media transmisi melalui SKSD Palapa.

Selengkapnya...

Tidur Sambil Berdiri di Bis Kota

Sejak aku pertama kali ditugaskan di Jakarta pada medio tahun 1985 sampai dengan medio tahun 2000, alat transportasi yang aku gunakan untuk ke Kantor dan pulang ke Rumah adalah Bis Kota. Sekian lama menggunakan Bis Kota meninggalkan berbagai macam kenangan, dari "dijailin" orang atau "menjailin" orang, melihat para pencopet beraksi bahkan aku pernah duduk disamping "Jegger" nya pencopet sehingga aku bisa melihat para pencopet yang "menyetorkan" hasil jarahannya sampai dengan tidur sambil berdiri di bis kota.

Awalnya, aku tidak sengaja tertidur sambil berdiri di bis kota karena kelelahan. Tetapi lama kelamaan aku mulai menikmati tidur sambil berdiri bahkan tanpa berpegangan pada besi yang disediakan di bis kota untuk penumpang yang berdiri. Tapi ada syaratnya untuk bisa tidur sambil berdiri tanpa berpegangan pada alat apapun, yaitu bis kota harus penuh sesak sehingga untuk bergerakpun kita sulit. Nah, kalau naik bis kota dengan kondisi seperti ini, sambil mendekap tas kerjaku, aku mulai memejamkan mata. Bila bis kota mengerem atau mempercepat jalannya, umumnya kita akan bergerak kedepan atau kebelakang, aku mengikuti saja gerakan itu tanpa takut terjatuh karena "tertahan" oleh penumpang lain (saking penuhnya).

Memang tidur dengan cara seperti ini tidak bisa lama, sebab penumpang kadang berkurang karena ada yang turun pada pemberhentian/halte berikutnya, tetapi "tidur nyenyak" selama beberapa menit sudah cukup untuk mengurangi atau menghilangkan rasa ngantuk dan rasa lelah.

Selengkapnya...

Menjadi Kepala Suku

Ketika tahun 1995 aku pindah rumah dan tinggal di BSD Area, Tangerang awalnya berangkat ke kantor dan pulang kerumah aku tetap menggunakan transportasi Bis Kota. Saat itu aku masih berugas di KDTJP dan lokasi kantor ku ada di Merdeka Selatan atau lebih dikenal dengan sebutan Gambir-1 atau Gambir saja.

Kemudian ada rekan kerjaku yang tahu kalau aku sudah pindah ke BSD, dia mengajak aku mencoba pulang dengan menggunakan Kereta Api. Nah, dari sinilah bermulanya aku menjadi "Kepala Suku". Walaupun tidak setiap hari aku bisa pulang tepat waktu , aku mulai menggunakan transportasi Kereta Api dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Serpong untuk pulang ke rumah. Rupanya sebagai "pendatang baru" penumpang Kereta Api (KRD = Kereta Rel Diesel) Tanah Abang - Serpong, diantara rekan-rekan lain dari KDTJP aku yang paling "senior" baik dari sisi usia mau jabatan. Saat itu aku masih sebagai Kasubdin Transmisi di KDTJP, sedangkan rekan-rekan lain ada yang dari unit kerja Catu Daya, Telegrap, Telepon Umum, Sentral dan juga Ibu-Ibu para operator dari Unit Kerja Penerangan Lokal (108) dan Telepon Antar daerah (100).

Awalnya aku hanya bergabung dengan rekan yang aku kenal, tetapi lama kelamaan kami berkumpul dalam satu kelompok "Geng Kereta Api" dari KDTJP dan karena aku yang paling senior, rekan-rekanku menyebut aku dengan sebutan "Kepala Suku". Sepanjang perjalanan, grup kami selalu paling ramai ber "ha-ha hi-hi", sehingga pelan-pelan "anggota geng" bertambah ada yang dari Pertamina, Bank BDN dan Pegawai Swasta lainnya. Kami semua cukup akrab satu dengan lainnya, walaupun kemudian geng ini bubar karena adanya mutasi dan sebagainya. Saat aku kemudian bertugas di KDTJS aku bertemu kembali dengan 2 orang mantan anggota "Geng Kereta Api" dulu, dan bila ada waktu luang dan kesempatan kami selalu ber "ha-ha hi-hi" lagi mengenang masa-masa lalu.
Selengkapnya...

BINTAL

Di saat aku akan memulai pendidikan lanjutan pada tahun 1984 di Program D3 (PATK) yang diadakan oleh Perusahaan, maka sesuai dengan ketentuan saat itu bahwa semua calon Siswa pada jenjang Strata apapun di wajibkan untuk mengikuti Pra Pendidikan dengan melaksanakan Pembinaan Mental (BINTAL) yang saat itu diadakan di salah satu PUSDIK di Cimahi.

Sebelumnya tidak terbayang kalau aku harus mengikuti pendidikan dengan cara serta ala militer di Pusat Pendidikan nya militer juga. Pertama kali masuk PUSDIKHUB sudah mulai "ngerinya" karena memasuki tempat yang semuanya harus dilakukan dengan penuh kedisiplinan. Dimulai dari potong rambut harus gundul, berpakaian seragam ala militer dan mengikuti latihan-latihan phisik yang semuanya lumayan berat kalau dipandang dari kacamata orang sipil.

Yang aku ingat di saat itu, bila mau kemana-mana harus lari. Dari Barak mau menuju lapangan Apel harus lari, kemudian dari tempat Apel menuju kelas harus lari sampai dari Kelas mau ke kamar kecil pun harus lari. Bila ketahuan ada pelanggaran hukumannya kalau tidak disuruh push-up ya merayap diatas aspal. Untungnya tidak ada hukuman yang bersifat kekerasan phisik yang diberlakukan untuk kami yang siswa ex karyawan semuanya.

Yang paling menyenangkan selama mengikuti BINTAL ini adalah kalau sudah latihan yang diadakan di luar PUSDIK karena bisa melihat "dunia luar". Latihan yang diadakan diluar bisa saat harus lari dengan perlengkapan militer, lalu latihan turun tebing menggunakan tali dan snappering (maaf kalau salah tulis) yaitu melintas menyeberangi sungai dengan menggunakan seutas tali. Betul-betul menjadikan tantangan untuk bisa melakukan ini semua karena selain menantang juga ada rasa kebanggan bila berhasil menyelesaikannya.

Yang paling menyebalkan adalah kalau kebagian jaga Barak yang kebetulan kena pada saat antara jam 1 sampai jam 4 pagi karena pada jam-jam tersebut mata sedang mengantuk berat tapi tidak bisa di elakkan karena harus dilaksanakan bergantian dan juga harus lapor ke Pos Piket yang berada di depan PUSDIK. Belum lagi setelah mendengar cerita-cerita "miring" kalau malam hari yang terjadi di PUSDIK tersebut menambah "ciut" nya nyali he he he.

Tapi dibalik itu semua ada satu hal yang sangat membanggakan yaitu apabila mendapat kesempatan berlibur di hari Sabtu dan Minggu. Pada saat berlibur kami diberi kebebasan untuk mengenakan pakaian bebas tidak berseragam yang biasa digunakan tetapi tetap memasang lencana tanda siswa yang di pasang di baju. Nah disini lah kebanggaan itu muncul. Setiap kami berjalan atau naik angkot pasti ada Siswa2 lain dari PUSDIK2 lain yang berseragam termasuk Taruna2 AKMIL (AKABRI Bag. DARAT saat itu) yang sedang mengikuti Pendidikan Kejuruan langsung memberi hormat kepada kita2 yang pada awalnya sampai terkaget-kaget karena bingung ada yang memberi hormat secara militer kepada kita2 yang sipil. Rupanya belakangan baru kita tahu, bahwa yag ber libur dengan menggunakan pakain sipil biasanya para perwira makanya para siswa Secaba dan lain nya Hukum nya Wajib untuk menghormati kita2 yang di setarakan dengan Perwira. Padahal kalau di dalam PUSDIK dan dalam kondisi menggunakan pakaian seragam justru terbalik, kita2 yang Wajib memberi hormat kepada mereka yang menggunakan seragam militer tanpa melihat pangkat !
Selengkapnya...

Yang Tercepat dan Yang Terlama

Dalam perjalanan karier-ku barangkali agak berbeda dengan rekan-rekan lainnya dalam hal mutasi pekerjaan karena selama 34 tahun aku bekerja maka aku hanya mengalami mutasi hanya di 2 (dua) kota saja, yaitu Palembang dan Jakarta saja. Di Palembang aku memulai bekerja dan di Jakarta aku mengakhiri masa bhakti ku di Telkom.

Dimulai dari Palembang pada tahun 1974 aku bekerja dan ditugaskan sebagai teknisi Telegrap yang diawali di tempatkan di Sentral Telex dan Transmisi Telegrap yang selanjutnya pada tahun 1978 mendapatkan promosi sebagai Kasi Switching yang bertanggung jawab atas Operasi & Pemeliharaan Sentral Telex dan Transmisi Telegrap di KANDATEX Palembang.

Pada saat kemudian di mutasi ke Jakarta setelah menyelesaikan pendidikan, mendapat kepercayaan dan ditugaskan sebagai sebagai KaSubsi Sentral Telex Jatinegara pada tahun 1986 yang selanjutnya pada tahun 1989 di Promosikan menjadi Kasi Multiplex Analog Gambir, kemudian di mutasi ke Kasi SPC-1 (Telex) Gambir. Selanjutnya pada tahun 1991 mendapat promosi sebagai Kasubdin Transmisi di Dinas Teknik yang kemudian berubah menjadi Dinas OpHar SENTRADAYA KANDATEL JakPus.

Selanjutnya dengan adanya re-organisasi di WITEL II Jakarta, pada tahun 1988 aku di mutasi kan sebagai KaSubdin Dukungan Pelanggan pada Dinas Pelayanan UPNR Jakarta. Setelah mengikuti Job Tender aku selanjutnya mendapat Promosi menjadi Kepala Dinas Jaringan (KADINJAR) KANDATEL JakSel pada tahun 2000 dan dalam mengakhiri karier ku aku di mutasi kembali sebagai Manager Business Performance masih di KANDATEL JakSel pada tahun 2006 dan melaksanakan Masa persiapan Pensiun (MPP) sebelum mendapat Pensiun murni pada posisi ini.

Dari sekian banyak mutasi yang aku laksanakan maka yang tercepat adalah saat aku bertugas di Multiplex Analog Gambir yaitu hanya selama 3 (tiga) bulan sedangkan yang paling lama adalah saat aku ditugaskan sebagai Kasubdin Transmisi di KANDATEL JakPus selama hampir 7 (tujuh) tahun tepatnya 6 Tahun 11 bulan. Juga dari sekian banyak penugasan, aku mengalami satu kali nyaris "dicopot" dari Jabatan yang dipercayakan kepada ku tanpa aku mengetahui kesalahanku, ketika aku masih dipercaya menjabat sebagai Manager Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Akes di KANDATEL JakSel, namun akhirnya di batalkan walaupun Sidang Jabatan (SIJAB) sudah dilaksanakan dan penggantiku sudah ditetapkan.
Selengkapnya...

Pemeliharaan Jaringan Optik

Ketika Aku ditugaskan di Seksi (Kasi) Pemeliharaan Multiplex Analog Gambir di DINTEKTRAGRAP W-04 Jakarta sekitar akhir tahun 1989 mau tidak mau aku harus belajar lagi tentang Teknik Transmisi khususnya perangkat-perangkat Multiplex Transmisi Analog yang masih di operasikan di Jakarta. (Saat itu perangkat transmisi terestrial lain seperti Microwave Jawa-Bali, SKSD dan PCM-30 untuk Hubungan Antar Sentral sudah di operasikan juga). Maklum dengan basic ku Teknik Telegrap mau tidak mau harus belajar lagi untuk perangkat-perangkat baru yang harus aku operasikan dan pelihara.

Sebagai Seksi yang bertanggung jawab untuk memelihara perangkat Multiplex Analog juga diberikan tanggung jawab untuk memelihara Jaringan Fiber Optik Jakarta - Serang mengingat saat itu belum ada Unit Kerja yang menangani Network Interlokal secara spesifik. Kecuali untuk Jaringan Akses Tembaga untuk dalam kota dan luar kota sudah ada dibawah Dinas Jaringan Perhubungan (DINJARHUB).

Nah, suatu saat aku mengikuti program Pemeliharaan Bulanan yang harus dilakukan dan saat itu di mulai dari arah Rangkas Bitung ke arah Jakarta. Dengan membawa peralatan pemeliharaan aku berangkat dengan seorang teman yang sudah ber pengalaman melakukan pemeliharaan Jaringan Fiber Optik ini. Oh ya, jaringan optik yang dipelihara ini dipasang sepanjang rel kereta Api sehingga dalam melakukan pemeliharaan kanjutnya diteruskan dengan berjalan kaki menyusuri sepanjang rel kereta api mengingat bila menggunakan KBM roda 4 akan menyulitkan karena kondisi lapangan saat itu.

Kami berangkat naik Kereta Api dari Stasiun Tanah Abang sampai ke Stasiun Rangkas Bitung. Dari Stasiun Rangkas Bitung kami menggunakan Ojeg menyusuri jalanan kampung yang menyusuri rel kereta api dan sampai disatu titik ojeg sudah tidak bisa digunakan karena medan nya sudah tidak memungkinkan untuk dilalui sepeda motor lagi.

Yang harus kami pelihara adalah perangkat sejenis repeater yang di tempatkan dibawah tanah (semacam man-hole kecil) sedangkan Fiber Optic nya sendiri dipasang diatas tiang telepon sepanjang rel kereta api. Yang agak rumit apabila man hole yang ada sudah sejajar dengan parit di pinggir rel kereta api, karena untuk membersihkan kami harus mengeluarkan tumpukan tanah yang masuk dan menumpuk di dalam man hole tersebut. Tidak sedikit juga pada saat kami membuka penutup man hole menemukan Kala-Jengking yang lumayan besarnya.

Pelaksanaan Pemeliharaan berakhir di area Stasiun Sudimara dan kondisi saat itu lalu lintas Kereta Api belum seramai seperti sekarang maka ketika kami kembali ke Stasiun Tanah Abang kami terpaksa menggunakan Kereta Api Pengangkut Pasir yang lewat karena menunggu Kereta Api penumpang Reguler tidak datang-datang juga. Pekerjaan yang aku lakukan ini memang sangat unik karena dilakukan dengan lebih banyak berjalan kaki menyusuri rel kereta api di tengah terik matahari sehingga hampir seminggu untuk menghilangkan "merahnya" kulitku yang nyaris seperti "terbakar" karena kepanasan.
Selengkapnya...

Kenangan Saat Dinas Malam Pertama

Ditempat aku bekerja, semua teknisi Telegrap dituntut untuk mengerti dan memahami operasi dan pemeliharaan semua perangkat-perangkat operasional antara lain : Sentral Telex, Perangkat Transmisi Telegrap, Terminal Telegrap atau lebih dikenal dengan Teleprinter atau Pesawat Telex berikut perangkat asesorisnya sampai dengan Genset. Bahkan yang unik saat itu, juga harus memahami perangkat untuk pengiriman & penerimaan berita menggunakan Morse termasuk perangkat transmisi yang menggunakan kawat tembaga maupun Radio Analog sebagai media carrier / transmisi nya.

Nah, ketika aku harus bertugas malam hari (ditempatku bekerja saat itu ada tiga shift : pagi, siang dan malam) yang harus dilakukan sendirian mengingat kalau malam hari, relatif kegiatan operasional sudah jauh berkurang, hanya perbankan saja yang masih sering menggunakan komunikasi via telex sampai tengah malam.

Oh iya, Kantor tempatku bekerja adalah sebuah bangunan tua bekas peninggalan jaman Belanda (bisa dibayangkan kunonya kantorku), lantai untuk memasang perangkat sentral dan lainnya saja masih terbuat dari kayu (entah kayu apa, yang jelas sudah lama tapi masih tetap kuat!). Ditambah cerita-cerita seram yang aku dengar dengan "kekunoan" bangunan kantor serta kebetulan juga tidak jauh dibelakang kantorku terletak "Kamar Mayat" sebuah Rumah Sakit Angkatan Darat.

Nah dengan kondisi demikian aku melaksanakan tugasku untuk Dinas Malam. Menjelang tengah malam ada satu Selector Incoming (Sentral Telex saat itu masih menggunakan selector, sentral TW-39 buatan Siemens atau lebih dikenal dengan system step by step) bergerak secara kontinyu. Aku lihat dari kejauhan lampu indikasi Trunk dengan Jakarta menyala dan padam bergantian seiring dengan gerak selector. Aku hanya berpikir positif, kemungkinan rekan Jakarta sedang melakukan Test Trunk tetapi anehnya mengapa tetap hanya satu trunk saja yang menyala dan satu selector yang bergerak padahal semuanya ada 9 trunk Out-Going ke arah Jakarta dan 9 Selector Incoming. Karena penasaran, aku mendekat ke rack tempat indikator dan selector tersebut, tetapi apa yang terjadi setelah aku disitu ! Semua selector itu tiba-tiba bergerak serentak dan langsung release kembali secara bersamaan dengan suara berderak yang sangat-sangat mengagetkan ! Satu selector saja sudah keras bunyinya apalagi sembilan secara bersamaan ! Aku begitu terkejut dan terkesima dengan kondisi saat itu, karena secara teori teknis tidak mungkin hal itu terjadi. Setelah itu, semua Trunk dan Selector normal kembali bahkan tidak ada lampu menyala dan selector yang bergerak sama sekali sampai pagi harinya. Rupanya "penghuni" kantorku ingin "berkenalan" denganku karena malam-malam selanjutnya bila aku dinas tidak pernah lagi mengalami hal tersebut. Kejadian dinas malam pertama ini tidak pernah aku lupakan, sampai sekarang !

Selengkapnya...

Menjadi Komandan Upacara

Waktu itu aku masih bertugas di KANDATEL JakPus dan masih sebagai Kepala Seksi (KASI) yang selalu secara bergantian ditunjuk sebagai Pelaksana Upacara Bendera pada setiap tanggal 17. Apabila penunjukan tersebut sebagai Pembaca Naskah-Naskah ya biasa-biasa saja walaupun sedikit gemetaran, nah suatu saat begitu ditunjuk menjadi Komandan Upacara (saat itu aku sudah menjadi KASUBDIN atau Asman sekarang) paniknya bukan main. Mengapa ? Jujur saja, saat itu aku orangnya "nggak pedean" (istilah sekarang) karena membayangkan memimpin banyak orang agar upacara bisa sukses terlaksana dengan baik apakah aku mampu ?
Ternyata benar, didepan banyak orang pada saat merapihkan barisan suaraku terdengar gemetaran sama dengan kakiku yang tidak bisa aku sembunyikan. Terlebih lagi pada saat Pembina Upacara masuk lapangan upacara (saat itu KAKANDATEL JakPus adalah pak SGP), kedua kakiku gemetaran sangat hebat mungkin bila orang melihat dikira aku sakit. Tapi pada saat itu aku ingat "ilmu" sewaktu mengikuti BINTAL di PUSDIKHUB Cimahi dan waktu SUSPIM III serta satu lagi tiba2 aku punya prinsip, kapan lagi waktunya bisa "membentak" KAKANDATEL ! Pada saat penghormatan, walaupun aku masih gemetaran, nah pada saat harus laporan aku berteriak sekeras-kerasnya : LAPOOOR .... ! ..... dst dan hasilnya ternyata gemetaranku hilang dan upacara bisa berlangsung sampai selesai dengan baik. Selanjutnya aku malah jadi ketagihan, kalau ditunjuk menjadi Komandan Upacara ya senang sekali dan bisa dilakukan dengan enjoy aja .... !
Selengkapnya...

TELEX

TELEX adalah singkatan dari Teleprinter Exchange yang menurut bahasa keren nya adalah suatu jaringan teleprinter yang digunakan oleh umum secara international (world-wide public teleprinter network). TELEX ini dioperasikan dengan mengacu kepada International Telegraph Alphabet Number 2 (ITA-2) dengan kecepatan transmisinya adalah 50 Baud. Dalam perjalanan waktu di Indonesia istilah TELEX sering digunakan hanya untuk Terminal Teleprinter nya saja sedangkan media untuk menghubungkan dengan Teleprinter lainnya di sebut dengan Sentral Telex. Pada saat masa nya, Telex ini sangat banyak digunakan oleh Dunia Per-Bank-an termasuk di Dunia Militer mengingat Telex ini sangat effektif dan akurat dalam pengiriman dan penerimaan berita dan yang paling utama adalah tidak bisa disadap mengingat system operasional telex ini memerlukan arus kerja yang tertentu sehingga lebih atau kurang sedikit saja akan menimbulkan masalah (berita yang diterima akan cacad / error).

Di Indonesia sendiri Terminal Telex yang Paling banyak digunakan adalah Buatan Siemens dengan Type T-100 (contoh lihat gambar diatas) karena pengoperasiannya yang sangat mudah dan juga perawatannya mudah juga. Secara lengkap jenis-jenis teleprinter yang pernah beredar dan dioperasikan di Indonesia antara lain :
SIEMENS : T-37; T-100; T-100-S; T-150 (mekanik)
T-1000; T-1000-S; T-1200 (elektronik)
LORENZ/SEL : LO-15; LO-133 (mekanik)
LO-2000; LO-3000; LO-3003 (elektronik)
HASLER : SP-20 (elektronik)
TELETYPE : M-28 (mekanik)
OKI : MT-100-N (elektronik)
PHILLIPS : PACT-220; PACT-250 (elektronik)

Ketika aku mulai bekerja pada tahun 1974 di Kantor Daerah Telegrap & Telex Palembang (Kandatex PG) aku masih menemukan Teleprinter Siemens T-37, Lorenz LO-15 dan Teletype M-28 semuanya masih teleprinter mekanik. Namun dalam perjalanan waktu Telkom mengambil standard hanya menggunakan teleprinter SIEMENS T-100 dan T-1000. Kedua jenis teleprinter ini sudah dilengkapi dengan alat untuk penebuk pita dan sekaligus transmitter untuk mengirimkan berita menggunakan pita tebuk.
Selengkapnya...

Mengoperasikan & Memelihara 3 Generasi Sentral Telex

Mungkin aku termasuk orang yang beruntung dari sekian banyak karyawan Telkom, karena bisa mengikuti untuk mengoperasikan & memelihara Sentral Telex dari Generasi yang pertama sampai Generasi selanjutnya.
Sentral pertama yang aku tangani adalah Sentral Telex type TW-39 buatan Siemens. Sentral ini masih sentral mekanik yang menggunakan selector untuk melakukan pemilihan digitnya. Pemilihan digit/angka masih menggunakan relay mekanik yang selanjutnya diteruskan untuk "menangkap" selektor yang bebas dimulai dari Pre Selector (PS), kemudian Group Selector (GW) dan terakhir Final Selector (LW). Mengoperasikan dan memelihara Sentral ini "relatif mudah" mengingat perangkatnya masih "besar-besar".

Selanjutnya Generasi kedua yang aku tangani adalah Sentral Telex TWK-9 juga buatan Siemens. Sentral ini menggantikan Sentral TW-39. Sentral ini sudah mulai menggunakan relay electonic & mecanic dan system operasinya menggunakan Common Control. Mengoperasikan Sentral ini sedikit rumit, karena kelemahan sentral ini adalah relay mekanis nya mudah aus sehingga bila sudah aus atau rusak harus diganti. Semua pekerjaan perbaikan dan mengatasi gangguan dilakukan oleh petugas sentral sendiri. Aku pernah mengalami gangguan sentral yang sedemikian rumitnya sehingga baru selesai setelah bekerja selama 4 hari & 3 malam. Bila sudah ada gangguan kita harus membuka semua dokumen sirkit yang terkait, hand book serta catatan sewaktu pelatihan.

Generasi ketiga adalah Sentral Telex EDX-C juga masih buatan Siemens. Sentral ini menggantikan Sentral TWK-9, untuk mengoperasikan & memelihara sentral EDX-C ini aku bahkan sempat terpilih untuk mengikuti Training di Muenchen Jerman khusus mempelajari DataBase Sentral. Sayangnya, aku tidak lama ikut mengoperasikan dan memelihara sentral EDX-C ini karena dengan perjalanan waktu aku harus mutasi ke unit kerja lain. Dan selanjutnya dengan perkembangan teknologi saat ini, Sentral EDX-C akhirnya dilakukan cut-off pada September 2007 dimana aku sendiri sudah menjalani MPP.
Selengkapnya...